Dari Stagnasi Menuju Inovasi: FAI UAD Bahas Masa Depan Pendidikan Islam
FAI NEWS – Senin, 20 Januari 2025
Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan Kajian Bulanan Dosen yang bertempat di Gedung Yunahar Ilyas. Kegiatan ini diikuti oleh pimpinan fakultas, ketua dan sekretaris program studi, serta para dosen di lingkungan FAI sebagai forum refleksi dan diskusi strategis dalam merespons tantangan kontemporer dunia pendidikan tinggi Islam.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. Arif Rahman. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kajian bulanan menjadi ruang konsolidasi akademik dan penguatan visi fakultas di tengah dinamika perubahan global.
“Perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan dinamika global menuntut kita semua untuk terus beradaptasi. Namun adaptasi tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman dan keilmuan yang menjadi identitas Fakultas Agama Islam,” ujar Dr. Arif Rahman.
Ia juga mendorong para dosen untuk mengambil peran strategis dalam pengembangan institusi.
“FAI tidak cukup hanya menjalankan rutinitas akademik. Kita perlu melahirkan gagasan dan inovasi yang mampu membawa fakultas ini memiliki daya pengaruh yang lebih luas,” tambahnya.

sambutan oleh dekan fakultas agama islam Dr. Arif Rahman
Kajian inti disampaikan oleh Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A. dengan tema “Tantangan Kontemporer dan Tawaran Solusi bagi Pengembangan Fakultas”. Dalam pemaparannya, Prof. Siswanto menekankan bahwa perubahan dan pengembangan merupakan keniscayaan bagi institusi pendidikan tinggi.
“Dalam setiap institusi akademik selalu ada dua kelompok, yaitu kelompok pelaksana dan kelompok penggerak. Fakultas tidak cukup hanya berjalan, tetapi harus digerakkan agar benar-benar berpengaruh dan bermartabat,” tegas Prof. Siswanto.
Ia menjelaskan bahwa tantangan utama perguruan tinggi saat ini meliputi pesatnya perkembangan teknologi, perubahan sosial masyarakat, serta meningkatnya daya saing global.
“Masalah besar kemanusiaan tidak boleh hanya diserahkan kepada teknolog yang miskin etika, atau kepada moralis yang tidak memahami teknologi. Perguruan tinggi Islam harus hadir di tengah keduanya,” ungkapnya.
Menurutnya, stagnansi akademik dapat terjadi apabila institusi tidak berani berinovasi dan hanya terpaku pada rutinitas administratif.

Sesi Materi Oleh Prof. Dr. Siswanto
“Bukan ketiadaan anggaran atau sumber daya yang membuat perguruan tinggi tertinggal, tetapi minimnya inovasi dan keberanian sumber daya manusianya,” ujarnya.
Prof. Siswanto juga menyoroti pentingnya penguatan keterampilan teknologi yang berlandaskan etika, wawasan sosial-keagamaan yang kontekstual, serta kepemimpinan akademik yang visioner.
“Kunci pengembangan institusi ada pada manusianya. Bukan sekadar jabatan akademik, tetapi kemauan, keberanian, dan kesediaan untuk bergerak dan mengambil peran,” jelasnya.
Diskusi kajian dipandu oleh Dr. Fandi Akhmad, M.Pd.I selaku moderator. Ia mengarahkan jalannya dialog agar berlangsung interaktif dan reflektif, serta membuka ruang diskusi bagi para dosen untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan gagasan terkait penguatan kebijakan dan mutu akademik FAI.
Selain itu, kajian menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) secara sadar (by design) dalam proses pembelajaran dan kepemimpinan perguruan tinggi, khususnya dalam menghadapi isu-isu kontemporer seperti artificial intelligence, perubahan sosial, dan tantangan global.


