Dekan FAI UAD Tekankan Pentingnya Guru Mencintai Ilmu pada Pesantren Ramadhan KB–TK ABA se-Umbulharjo
Yogyakarta – Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Arif Rahman, menekankan pentingnya kecintaan terhadap ilmu pengetahuan bagi para pendidik saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pesantren Ramadhan 1447 H yang diselenggarakan oleh Pra Majelis PAUD Dasmen bersama para kepala sekolah, guru, dan karyawan KB–TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) se-Kapanewon Umbulharjo.
Kegiatan yang berlangsung pada 5–6 Maret 2026 di Aula Islamic Center Al-Furqon tersebut mengangkat tema “Dengan Pesantren Ramadhan Meningkatkan Martabat Kemanusiaan dan Dedikasi Pendidik.” Sekitar 150 peserta hadir dalam kegiatan ini, yang terdiri dari guru TK/PAUD ABA se-Umbulharjo serta pengurus ranting dan cabang Aisyiyah di wilayah tersebut.
Guru Harus Menjadi Pecinta Ilmu
Dalam materi bertajuk “Akhlak Pendidik dalam Perspektif Islam”, Arif Rahman menegaskan bahwa seorang pendidik tidak cukup hanya mengajar, tetapi juga harus memiliki kecintaan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan. Menurutnya, guru yang mencintai ilmu akan melahirkan generasi yang tumbuh dengan pengetahuan dan semangat belajar yang tinggi.
“Menjadi pendidik harus mencintai ilmu pengetahuan. Dari kecintaan terhadap ilmu itulah lahir murid-murid yang tumbuh dengan pengetahuan dan keinginan untuk terus belajar,” ujarnya di hadapan para peserta.
Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Wattaqullah wa yu‘allimukumullah”, yang menegaskan bahwa ilmu merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia yang memiliki ketakwaan.
Menurutnya, tradisi keilmuan dalam Islam selalu menempatkan ilmu sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban.
Keteladanan Ulama dalam Tradisi Keilmuan Islam
Dalam paparannya, Arif Rahman juga menyinggung beberapa tokoh ulama besar yang menjadi teladan dalam mencintai ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Imam Syafi’i, seorang ulama besar yang dikenal sebagai pendiri mazhab Syafi’i dan memiliki dedikasi luar biasa dalam menuntut ilmu sejak usia muda.
Selain itu, ia juga menyebut Imam Nawawi, ulama besar yang dikenal sangat produktif dalam karya-karya keislaman, seperti kitab-kitab hadits dan fiqh yang hingga kini masih dipelajari di berbagai lembaga pendidikan Islam di dunia.
Menurut Arif Rahman, ketekunan para ulama dalam menuntut ilmu menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun oleh tradisi keilmuan yang kuat.
“Para ulama besar dalam sejarah Islam dikenal karena kecintaan mereka terhadap ilmu. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh, menulis karya, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya,” jelasnya.

Inspirasi Ulama Perempuan Indonesia
Tidak hanya dari kalangan ulama laki-laki, Arif Rahman juga menyoroti tokoh perempuan Indonesia yang berperan besar dalam dunia pendidikan Islam, yakni Rahmah El Yunusiyah.
Ia menjelaskan bahwa Rahmah El Yunusiyah merupakan tokoh pendidikan perempuan yang mendirikan Diniyah Putri di Padang Panjang. Lembaga pendidikan tersebut menjadi salah satu pelopor pendidikan Islam bagi perempuan di Indonesia.
Bahkan, menurutnya, model pendidikan yang dikembangkan oleh Rahmah El Yunusiyah turut menginspirasi berdirinya Kulliyat al-Banat Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang merupakan lembaga pendidikan tinggi bagi perempuan di lingkungan Universitas Al-Azhar.
“Ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan perempuan Muslim juga memiliki kontribusi besar dalam perkembangan pendidikan Islam di dunia,” ungkapnya.
Menumbuhkan Generasi Berilmu Sejak Usia Dini
Arif Rahman menegaskan bahwa guru TK dan PAUD memiliki peran strategis dalam menanamkan kecintaan terhadap ilmu kepada anak-anak sejak usia dini. Menurutnya, sikap guru terhadap ilmu akan sangat memengaruhi cara anak memandang proses belajar.
“Jika gurunya mencintai ilmu, maka suasana belajar akan hidup. Anak-anak akan tumbuh dengan rasa ingin tahu dan semangat belajar,” ujarnya.
Melalui kegiatan Pesantren Ramadhan ini, ia berharap para pendidik KB–TK ABA semakin memperkuat komitmen untuk menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
“Pendidikan yang kuat selalu dimulai dari guru yang mencintai ilmu. Dari sanalah lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan mampu membangun peradaban,” pungkasnya.




Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!