Dari Gontor Menuju Guru Besar: Kisah Inspiratif Prof. Dr. Rika Astari, Dosen FAI UADuntuk Generasi Santri
Fai News – Sebanyak 1.872 siswi kelas akhir Kulliyatul Mu’allimat al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor Putri mengikuti kegiatan Pembekalan Intensif pada 3 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan Jumat, 20 Februari 2026. Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Rika Astari, S.S., M.A., Guru Besar bidang Bahasa dan Media Universitas Ahmad Dahlan sekaligus alumni Gontor Putri tahun 1999, hadir sebagai pemateri utama.
Mengusung tema “Menggali Potensi Santri (Perempuan) untuk Meraih Kesuksesan di Masa Depan”, Prof. Rika mengajak para siswi untuk menyadari bahwa menjadi santri adalah modal besar untuk menghadapi kehidupan. Menurutnya, santri memiliki sejumlah potensi unggul, di antaranya mental yang kuat, kemandirian, kedisiplinan, kemampuan adaptif, serta jiwa kepemimpinan dan jiwa mendidik yang telah terasah sejak di pesantren.
Dalam pemaparannya, ia membagikan perjalanan hidupnya, mulai dari pengalaman menjadi guru TPA, guru TK, guru Bahasa Arab dan Inggris di SD, hingga menjadi dosen tetap UAD sejak 2005. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Dekan FAI UAD periode 2013–2018. Selain itu, Prof. Rika memiliki pengalaman kewirausahaan, seperti mengelola Salon Khusus Wanita La Tansa, Outlet Busana Muslim An-Nur, hingga menjadi owner Alya Homestay Jogja.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa potensi akademik santri mencakup rumpun ilmu agama, bahasa/humaniora, hingga ilmu eksakta-yakni bidang yang mempelajari hal-hal konkret dan dapat dibuktikan secara ilmiah.
Menurutnya, indikator sukses dalam menuntut ilmu bukan sekadar gelar, tetapi ilmu yang membawa: (1) manfaat bagi diri sendiri, (2) maslahat bagi masyarakat, dan (3) barokah-yakni ilmu yang melahirkan rasa khasyah, relevan, serta sesuai kebutuhan (hikmah).
Prof. Rika juga memaparkan fase-fase perjuangan pendidikan, mulai dari jenjang D3 dan S1 dengan berbagai tantangan seperti biaya kuliah, manajemen waktu, dan pergaulan, hingga perjuangan menempuh S2 dan S3 sambil membagi waktu antara keluarga, tugas akademik, dan tanggung jawab sebagai dosen.
Dalam penutupnya, ia mengingatkan bahwa dunia adalah Daarul Imtihan merupakan tempat ujian yang penuh tantangan, terutama bagi perempuan. Menghadapinya tidak cukup dengan harta atau penampilan, melainkan dengan kesabaran dalam berproses, kekuatan mental, keimanan, pendidikan, dan keluasan wawasan keilmuan. Ia juga mengutip QS. An-Nisa ayat 32 sebagai landasan kesetaraan usaha dan ikhtiar antara laki-laki dan perempuan.
“Jadilah perempuan yang terdidik dan terpelajar. Perempuan yang tahan dalam kondisi susah dan biasa saja dalam kondisi berlimpah,” pesannya di hadapan ribuan siswi.
Ia menutup dengan ungkapan syukur atas didikan orang tua, pendidikan Gontor, dukungan keluarga, serta lingkungan akademik di Universitas Ahmad Dahlan yang mengantarkannya meraih jabatan Guru Besar. Menurutnya, guru besar sejatinya adalah sosok yang berdampak besar, berjiwa besar, sabar, dan mampu mendidik orang lain menjadi pribadi yang besar.
Kegiatan pembekalan ini menjadi momentum reflektif bagi para siswi akhir KMI untuk menata langkah menuju masa depan, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislaman dan semangat pengabdian.


