FAI UNWIR Kunjung FAI UAD Untuk Belajar

Yogyakarta, FAI TERKINI – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menerima kunjungan akademik dari Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wiralodra (Unwir), Indramayu Jawa Barat. Kunjungan Akademik itu sekaligus penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kedua lembaga bidang Tridarma Perguruan Tinggi yang dipimpin Dekan FAI Unwir H Ibnu Rusydi MA diterima langsung Dr Nur Kholis MAg (Dekan FAI-UAD).
Nur Kholis mengatakan, pengembangan fakultas harus dilakukan secara bertahap mulai dari pembenahan layanan, pelaksanaan perkualiahan hingga promosi. FAI-UAD telah melaksanakan trial and error pada setiap unsur-unsur penting kelembagaan tersebut. “Kini kami jauh lebih stabil dari hasil kontribusi semua pihak, termasuk sinergi antara dosen dan mahasiswa,” ujarnya di kampus 4, Ringroad Selatan, Sabtu (1/2/2020).
H Ibnu Rusydi mengatakan, FAI Unwir dapat meneladani strategi pengembangan mutu kelembagaan yang dipraktikkan FAI UAD. “Saya melihat belakangan ini Muhammadiyah melalui Perguruan Tinggi Muhammadiyah mengalami perkembangan sangat pesat di berbagai daerah,” ujarnya. Ibnu Rusydi berharap, baik FAI-Unwir dan FAI-UAD dengan adanya MoU dapat menjadi bukti bahwa antara lembaga NU dan Muhammadiyah dapat bekerja sama dengan baik pada aspek jalinan ukhuwah maupun kelembagaan.




Yogyakarta,
Sedangkan Ahmad Amin mengatakan, kehadiran STAIM Paciran ke UAD bersama 120 mahasiswa dan dosen. “Lembaga kami, kini baru menunggu turunnya Surat Keputusan STAIM menjadi Universitas Muhammadiyah Lamongan,” ucapnya.
Adapun sebelumnya pertandingan dilangsungkan pada Hari H, panitia juga menyelenggarakan TM (Technical Meeting), yang diadakan 1 (satu) hari sebelumnya di lokasi yang sama. Pada momen ini, UKM Taekwondo UAD mengirimkan sejumlah 29 atlit dan semuanya berhasil lolos persyaratan administratif maupun selektif. Alhamdulillah hasil akhir yang diperoleh oleh tim taekwondo Universitas Ahmad Dahlan adalah sejumlah 18 emas, 6 perak, dan 8 perunggu. Dalam kompetisi tersebut, terdapat 1 (satu) atlet taekwondo yang mengikuti sekaligus beberapa kategori perlombaan dan juga memenangkan beberapa kategori. Termasuk di antara atlet-atlet yang berhasil meraih kemenangan dalam laga bergengsi tersebut adalah 2 (dua) atlet berbakat dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UAD semester 1 (satu), yakni Amir Abdul Aziz yang berhasil memenangkan medali emas dan Ikhsan Ubaidilah yang berhasil memenangkan medali perunggu. Keduanya atlet taekwondo tersebut turun laga pada kelas taekwondo yang sama, yaitu untuk Kategori Kyorugi (Fighter) Kelas E U-60Kg.
Yogyakarta,
antusias mendukung para fakultasnya. Jelas, hampir seluruh KBM Fakultas Agama Islam (FAI) ikut terjun membersamai, mendukung tim futsal yang di delegasikan. Dan dukungan yang luar biasa itu pula membuahkan hasil yang luar biasa, tim delegasi FAI pun meraih piala kejuaraan. Piala juara 1 diraih dengan sangat memuaskan. Dan kejuaraan ini menjadi buah manis untuk Fakultas Agama Islam serta seluruh KBM FAI. Besar harapan dari official agar bakat ini tidak hanya berhenti sampai disini, namun adanya regenerasi penerus yang akan mengharumkan nama fakultas serta bakat-bakat yang luar biasa dari para KBM FAI. Bahkan tidak hanya futsal, namun berbagai lomba menjadi bakat yang meningkat dan menjadi kontribusi berharga untuk FAI itu sendiri “Yang pastinya bangga, apa yang kita perjuangkan sangat mendapat hasil yang memuaskan untuk mengharumkan nama fakultas tercinta” tutur Ardin selaku official futsal.



Dalam rangkaian tersebut, di tempat berbeda dilakukan Joint International Seminar bertema: Islamic Studies Challenges and Prospects atau Tantangan dan Peluang Studi Islam di kampus 4 Ringroad Selatan. Seminar menghadirkan narasumber Prof Dr Norhaiyati Abdul Muin (UiTM), Dr Yoyo MA (Kaprodi Sastra Arab FAIUAD) dan Hanifah Salsabila M.Pd. dengan moderator Arif Rahman M.Pd.I. Norhaiyati melakukan presentasi hasil penelitian, perempuan di Kelantan Malaysia kebanyakan berdagang bernaga dibandingkan pria. Berdagang sebagai bentuk amalan agama Islam untuk bertawakal. Sementara Yoyo mengupas ujaran kebencian di media online dikaitkan ajaran agama serta Hanifah Salsabila mengamati fenomena siswa/santri tinggal di pondok pesantren dalam era industn digital 4.0.