MoU dan Joint Seminar FAI UAD dengan FAI STAIM Paciran
Yogyakarta, FAI TERKINI – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melakukan kolaborasi seminar dengan STAI Muhammadiyah Paciran Lamongan Jatim di Gedung Islamic Center, Ringroad Selatan, Bantul, Senin (13/1/2020). Seminar bertema ‘Penguatan Arus Utama Islam di Dunia Global: Gagasan, Dinamika dan Tantangan’ dibuka Dr. Nur Kholis, M.Ag. (Dekan FAI-UAD) dan pengantar Drs. Ahmad Amin, M.Pd. (Ketua STAIM Paciran).
Seminar menghadirkan narasumber Ahmad Arif Rifan, M.Si., Yazida Ichsan, M.Pd., keduanya dari FAI-UAD, serta Yusuf Wibisono, M.Pd.I. dan Maslahul Falah, M.Ag. dengan moderator Miftah Kilmi Hidatulloh, Lc., M.A. Hadir dalam kesempatan itu, Drs. KH. Abdul Mubarok, Lc, M.Pd. (Ketua Badan Pelaksana Harian/BPH STAIM Paciran). Nur Kholis dalam sambutan mengatakan, kerjasama dengan STAIM Paciran diawali dengan pertemuan, penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan diteruskan dengan Memorandum of Agreement (MOA) yang sesuai dengan Tridarma perguruan tinggi, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.
Sedangkan Ahmad Amin mengatakan, kehadiran STAIM Paciran ke UAD bersama 120 mahasiswa dan dosen. “Lembaga kami, kini baru menunggu turunnya Surat Keputusan STAIM menjadi Universitas Muhammadiyah Lamongan,” ucapnya.

Adapun sebelumnya pertandingan dilangsungkan pada Hari H, panitia juga menyelenggarakan TM (Technical Meeting), yang diadakan 1 (satu) hari sebelumnya di lokasi yang sama. Pada momen ini, UKM Taekwondo UAD mengirimkan sejumlah 29 atlit dan semuanya berhasil lolos persyaratan administratif maupun selektif. Alhamdulillah hasil akhir yang diperoleh oleh tim taekwondo Universitas Ahmad Dahlan adalah sejumlah 18 emas, 6 perak, dan 8 perunggu. Dalam kompetisi tersebut, terdapat 1 (satu) atlet taekwondo yang mengikuti sekaligus beberapa kategori perlombaan dan juga memenangkan beberapa kategori. Termasuk di antara atlet-atlet yang berhasil meraih kemenangan dalam laga bergengsi tersebut adalah 2 (dua) atlet berbakat dari Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) UAD semester 1 (satu), yakni Amir Abdul Aziz yang berhasil memenangkan medali emas dan Ikhsan Ubaidilah yang berhasil memenangkan medali perunggu. Keduanya atlet taekwondo tersebut turun laga pada kelas taekwondo yang sama, yaitu untuk Kategori Kyorugi (Fighter) Kelas E U-60Kg.
Yogyakarta,
antusias mendukung para fakultasnya. Jelas, hampir seluruh KBM Fakultas Agama Islam (FAI) ikut terjun membersamai, mendukung tim futsal yang di delegasikan. Dan dukungan yang luar biasa itu pula membuahkan hasil yang luar biasa, tim delegasi FAI pun meraih piala kejuaraan. Piala juara 1 diraih dengan sangat memuaskan. Dan kejuaraan ini menjadi buah manis untuk Fakultas Agama Islam serta seluruh KBM FAI. Besar harapan dari official agar bakat ini tidak hanya berhenti sampai disini, namun adanya regenerasi penerus yang akan mengharumkan nama fakultas serta bakat-bakat yang luar biasa dari para KBM FAI. Bahkan tidak hanya futsal, namun berbagai lomba menjadi bakat yang meningkat dan menjadi kontribusi berharga untuk FAI itu sendiri “Yang pastinya bangga, apa yang kita perjuangkan sangat mendapat hasil yang memuaskan untuk mengharumkan nama fakultas tercinta” tutur Ardin selaku official futsal.



Dalam rangkaian tersebut, di tempat berbeda dilakukan Joint International Seminar bertema: Islamic Studies Challenges and Prospects atau Tantangan dan Peluang Studi Islam di kampus 4 Ringroad Selatan. Seminar menghadirkan narasumber Prof Dr Norhaiyati Abdul Muin (UiTM), Dr Yoyo MA (Kaprodi Sastra Arab FAIUAD) dan Hanifah Salsabila M.Pd. dengan moderator Arif Rahman M.Pd.I. Norhaiyati melakukan presentasi hasil penelitian, perempuan di Kelantan Malaysia kebanyakan berdagang bernaga dibandingkan pria. Berdagang sebagai bentuk amalan agama Islam untuk bertawakal. Sementara Yoyo mengupas ujaran kebencian di media online dikaitkan ajaran agama serta Hanifah Salsabila mengamati fenomena siswa/santri tinggal di pondok pesantren dalam era industn digital 4.0.





Kisah perjalanan hidup Shamsi Ali di Amerika sangat inspiratif, dimulai sejak usaha pertamanya untuk berdialog dan bekerjasama mengenalkan Islam dan Indonesia, yang realitasnya justru ditanggapi secara skeptis oleh orang Amerika. Sebagai pembedah utama, Dr. Nur Kholis, M.Ag. menyampaikan pandangannya bahwa buku Menapak Jalan Dakwah di Bumi Barat Biografi Pemikiran Imam Shamsi Ali ini sangat kompleks dalam memahami objek dakwah, cenderung menjunjung tinggi kebenaran, dan berhasil mengaktualisasikan secara apik bagaimana konsep dakwah bil lisani qoumih.