Guru Adaptif di Era AI dan Cegah Bullying: Prodi PAI UAD Gelar Seminar Nasional Guru PAI
FAI NEWS – Senin, 2 Juni 2026, Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Guru PAI yang bertempat di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Prodi PAI UAD, Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI OKU Timur Sumatera Selatan, dan Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) DPW Daerah Istimewa Yogyakarta. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari 50 guru KKG PAI OKU Timur Sumatera Selatan, guru-guru PAI DIY, mahasiswa, dosen, dan kalangan umum.
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua Program Studi PAI UAD, Yazida Ichsan, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyatakan rasa syukur atas terselenggaranya seminar nasional ini dan menegaskan bahwa Prodi PAI UAD memiliki andil besar serta kapasitas yang harus terus berkontribusi terhadap pendidikan Islam di masyarakat.
“Era perkembangan AI mendorong berbagai kemajuan, namun juga membuka peluang-peluang negatif apabila disalahgunakan, termasuk perilaku bullying. Harapannya, seminar ini menjadi jembatan edukatif bagi masyarakat untuk memberikan perhatian nyata terhadap peran pendidikan dalam mencegah bullying,” ujar Yazida Ichsan.
Dari pihak mitra, Ketua KKG PAI OKU Timur Sumatera Selatan, Wahid Hasyim, S.Pd.I., menyampaikan terima kasih yang tulus atas sambutan hangat UAD dan terselenggaranya kerja sama ini. Menurutnya, guru-guru PAI di daerah sangat membutuhkan suntikan informasi dan peningkatan kapasitas pengetahuan.
“Guru-guru berhadapan langsung dengan siswa, dan dinamika di sekolah tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Diperlukan kemampuan kritis dari guru dalam menghadapi berbagai fenomena yang terjadi bersama siswa, termasuk fenomena bullying di era digital saat ini. Barangkali peran guru PAI dari sisi etika dapat memperkuat hal tersebut,” tuturnya.
Dekan Fakultas Agama Islam UAD, Dr. Arif Rahman, M.Pd.I., mengawali sambutannya dengan mengapresiasi sinergi yang terjalin antara Prodi PAI UAD, KKG PAI OKU Timur, dan AGPAII DIY. Ia mengungkapkan bahwa kehadiran rombongan KKG OKU Timur ke UAD terasa seperti pulang kampung dan bertemu keluarga sendiri, mengingat dirinya berasal dari Palembang dan orang tuanya berasal dari Baturaja, OKU.

Dekan fai uad memberikan sambutan dalam seminar nasional guru PAI UAD
“Momen keakraban ini harapannya semakin intens dengan dibuktikan kolaborasi di berbagai bidang lainnya,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan perkembangan FAI UAD yang telah berdiri sejak tahun 1996 dan kini telah memiliki empat program studi jenjang sarjana, satu program studi jenjang magister, dan satu program studi jenjang doktoral. “FAI UAD siap menjadi mitra masyarakat, khususnya dalam mendukung penuh bidang pendidikan dan keislaman,” tegasnya.
Ketua AGPAII DPW DIY, Ahmad Syaifuddin, S.Ag., M.Si., turut hadir dan memberikan gambaran mengenai kiprah AGPAII DIY yang memiliki peran sentral dalam kebijakan bagi guru PAI baik di tingkat lokal maupun nasional. Ia mengungkapkan bahwa kerja sama yang terjalin erat antara AGPAII DIY dan FAI UAD telah membuahkan pengalaman yang sangat positif, terutama dalam mengawal peningkatan kapasitas SDM guru-guru PAI di DIY.
“Pada tahun 2025, AGPAII DIY mengirimkan 33 guru PAI untuk melanjutkan studi ke jenjang S2 PAI UAD. Harapannya, tren positif ini juga menular bagi guru-guru PAI di luar DIY, khususnya di daerah-daerah, agar punya kesempatan yang merata untuk mengenyam pendidikan hingga level magister. Dengan begitu, kemampuan pengajaran di sekolah pun semakin meningkat,” harapnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai fenomena sosial khususnya di sekolah, salah satu upaya pencegahan maupun penanganannya juga bergantung pada kualitas guru-guru, termasuk guru PAI.
Kajian inti seminar disampaikan oleh Dr. Sutipyo R., S.Ag., M.Si., dosen PAI UAD yang juga pakar dalam kajian perilaku perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan Islam. Dalam pemaparannya, Dr. Sutipyo menyajikan gambaran dan data survei kejadian bullying dari tahun ke tahun serta menegaskan bahwa bullying tidak boleh dianggap sebagai fenomena biasa yang dapat dibiarkan begitu saja.
“Kejadian bullying jangan hanya dianggap fenomena biasa, terlebih di era digital kecerdasan buatan yang semakin masif ini. Kemampuan merekayasa konten tanpa kebenaran dapat menjadi salah satu jalan untuk membuli orang lain. Kekuatan media sosial juga mendorong percepatan dan munculnya berbagai bentuk bullying dengan tingkat keragaman yang semakin tinggi,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa bullying kini tidak lagi hanya berbentuk ejekan verbal seperti zaman dahulu, melainkan dapat terjadi hanya lewat jari, dan korban dapat mengalami tekanan yang sangat besar semata-mata melalui media sosial. “Dari sisi peran guru PAI, yang dapat kita tekankan adalah upaya penguatan moral dan etika penggunaan media sosial dan teknologi digital agar digunakan secara lebih sehat dan sesuai peruntukannya,” jelasnya.
Seminar berlangsung sangat aktif dan interaktif, ditandai dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para peserta. Kehadiran 50 guru dari OKU Timur Sumatera Selatan yang jauh-jauh datang ke Yogyakarta mencerminkan besarnya semangat dan kebutuhan guru-guru PAI di daerah untuk terus meningkatkan kompetensi diri. Seminar nasional ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan asosiasi profesi guru mampu menghadirkan ruang pengembangan yang bermakna bagi para pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan Islam di era modern.














