Ikhwan Ahada Ajak Mahasiswa Doktor UAD Membaca Islam dalam Persoalan Kontemporer

Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A, narasumber unifikasi ilmu pada kuliah perdana mahasiswa S3 Studi Islam UAD
Yogyakarta — Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., mengajak mahasiswa Program Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD) mendalami peran agama dalam menjawab persoalan manusia di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ajakan tersebut disampaikan dalam Orientasi dan Kuliah Perdana Semester Gasal bertema “Unifikasi Ilmu dalam Studi Islam Kontemporer”, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan berlangsung di Ruang Kaca Barat, lantai 10, Kampus 4 UAD, Yogyakarta, dan diikuti secara luring maupun daring oleh mahasiswa baru serta mahasiswa angkatan sebelumnya. Turut hadir Dekan Fakultas Agama Islam UAD, dosen tetap Program Doktor Studi Islam, serta staf dan tenaga kependidikan.
Mengawali paparannya, Ikhwan mengajukan tesis kritis bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi belum sepenuhnya mampu menyelesaikan persoalan kehidupan. Kemajuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai posisi agama dalam mengantarkan manusia memahami hakikat dirinya dan menemukan nilai-nilai universal.
Dosen Program Doktor Studi Islam UAD yang juga merupakan bagian dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta itu kemudian mengajak peserta menelusuri kembali pengertian agama. Dengan merujuk pada pemahaman Muhammadiyah, ia menjelaskan unsur awamir atau perintah, nawahi atau larangan, serta irsyadat atau petunjuk. Keseluruhannya berorientasi pada kebaikan manusia dan pembentukan pribadi yang baik.
Dari pemahaman tersebut, Ikhwan menghubungkan pembahasan agama dengan semangat Islam Berkemajuan. Ia menekankan bahwa kemajuan merupakan spirit yang melekat dalam Islam dan perlu dihidupkan dalam pemikiran maupun kehidupan umat. Semangat inilah yang menjadi landasan untuk terus mengembangkan kajian keislaman seiring perubahan zaman.
Dalam konteks pendidikan doktoral, Ikhwan menyoroti kebutuhan akan pendekatan metodologis yang kuat. Studi Islam kontemporer memerlukan perangkat kajian yang memungkinkan Islam ditelaah secara mendalam dari berbagai aspek. Dengan bekal tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan penelitian yang memiliki kedalaman analisis dan argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ia menyebut multikulturalisme, hak asasi manusia, feminisme dan gender, serta maqashid syariah sebagai sejumlah topik dan dimensi yang dapat dijelajahi. Berbagai tema tersebut membuka ruang penelitian yang mempertemukan khazanah keislaman dengan persoalan masyarakat kontemporer.
Paparan Ikhwan memberikan pengantar bagi mahasiswa untuk menempatkan pertanyaan tentang agama, manusia, dan perubahan sosial sebagai bahan kajian doktoral. Melalui pemahaman keislaman yang mendalam dan metodologi yang kuat, studi Islam diharapkan dapat terus menyumbangkan pemikiran bagi kehidupan masyarakat.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!