Prof. Siswanto Masruri Ajak Mahasiswa Doktor Berani Bersuara, Berbekal Ilmu dan Moralitas

Prof. Siswanto Masruri, M.A mendorong mahasiswa Doktor Studi Islam harus berani bersuara lewat ilmu pengetahuan
Yogyakarta — Ketua Program Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A., mengajak mahasiswa doktoral berani menyuarakan persoalan masyarakat dengan berbekal kedalaman ilmu, kekuatan metodologi, dan kepekaan moral. Pesan tersebut disampaikan dalam Orientasi dan Kuliah Perdana Semester Gasal Program Doktor Studi Islam UAD, Kamis (15/10/2026).
Mengangkat tema “Unifikasi Ilmu dalam Studi Islam Kontemporer”, kegiatan berlangsung di Ruang Kaca Barat, lantai 10, Kampus 4 UAD, Yogyakarta. Acara diikuti mahasiswa baru dan mahasiswa angkatan sebelumnya secara luring maupun daring, serta dihadiri Dekan Fakultas Agama Islam UAD, dosen tetap, staf, dan tenaga kependidikan.
Dalam paparannya, Siswanto menempatkan ilmu pengetahuan sebagai unsur sentral dalam kemajuan peradaban. Namun, perkembangan ilmu juga berhadapan dengan hasrat dan naluri manusia yang memerlukan tuntunan kebijaksanaan. Karena itu, kemajuan pengetahuan perlu disertai perhatian terhadap cara manusia menggunakan ilmu dan dampaknya bagi kehidupan.
Ia menyoroti kecenderungan memandang kebijaksanaan melalui simbol-simbol gelar, jabatan, dan kekuasaan. Padahal, menurutnya, moralitas merupakan persoalan yang sangat krusial di balik kerusakan bangsa dan peradaban. Pandangan tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa agar memaknai pendidikan doktoral sebagai proses pendewasaan intelektual sekaligus tanggung jawab moral.
Siswanto mendorong mahasiswa untuk berani speak up terhadap persoalan yang muncul pada berbagai tingkat dan dimensi kehidupan. Keberanian bersuara itu harus ditopang pemahaman yang mendalam dan pendekatan metodologis yang kuat, terutama ketika menyentuh persoalan moralitas.
Dalam konteks ini, studi lanjut pada jenjang doktoral menjadi kesempatan untuk membuka horizon keilmuan. Prosesnya diharapkan memperkaya cara pandang dan pendekatan mahasiswa dalam mencari makna, mengurai persoalan, serta menawarkan cara baru dalam studi Islam kontemporer.
Lebih lanjut, Siswanto menawarkan pendekatan resiprositas ilmu, yakni hubungan timbal balik antarbidang pengetahuan. Melalui hubungan tersebut, berbagai disiplin dapat saling menguatkan, saling memanfaatkan temuan dan pendekatan, serta berdialektika dalam memahami suatu persoalan.
Ia menempatkan resiprositas ilmu sebagai pendekatan yang mendukung konsep tauhidul ulum. Dalam penjelasannya, tauhidul ulum menjadi payung besar yang memungkinkan berbagai bidang ilmu berinteraksi, sementara resiprositas memberi ruang bagi berlangsungnya hubungan timbal balik tersebut dalam praktik keilmuan.
Paparan tersebut mendapat tanggapan positif dari peserta. Salah seorang audiens yang mengajukan pertanyaan mengaku merasa tercerahkan oleh materi narasumber. Menurutnya, konsep keilmuan yang ditawarkan UAD merupakan tawaran yang rasional, terstruktur, dan memiliki landasan tauhid yang kuat.
Penanya tersebut menilai perspektif itu dapat digunakan sebagai kacamata analisis sekaligus kompas dalam penelitian. Pendekatan tersebut dipandang membantu mahasiswa menggali persoalan secara mendalam serta merumuskan tawaran solusi atas berbagai masalah krusial di masyarakat.
Melalui pembahasan resiprositas ilmu dan moralitas, kuliah perdana ini mengajak mahasiswa menghubungkan pengembangan keilmuan dengan tanggung jawab sosial. Studi Islam diharapkan terus berkembang melalui dialog antarilmu dan menghasilkan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan serta bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

Mahasiswa doktoral bertanya dan memberikan tanggapan materi unifikasi ilmu

