KE MAKAM SYUHADA BADAR
07/06/2023. Hari ini saya bersama tim Media Center Haji napak tilas ke Maqbaroh Syuhada Badar. Sebuah situs makam yang di dalamnya ada 14 syuhada yang mati dalam Perang Badar. Perang yang sangat bersejarah bagi umat Islam.
Butuh waktu 2-3 jam dari Masjid Nabawi untuk sampai di Pemakaman Syuhada Badar. Dengan jarak tempuh hingga 150 km dari Kota Madinah. Ketika rombongan Media Centre Haji (MCH) melakukan ziarah ke Makam Badar, suasana lengang diselimuti panas terik matahari Madinah.

Hanya ada penjual es krim yang nangkring di atas mobilnya. Dan penjual kopi, teh, dan kayu siwak yang sangat sederhana.
“Banyak pengunjung ke sini. Terutama jemaah haji dan umrah dari Indonesia dan Malaysia. Sekali datang bisa 10 bus,” kata salah satu penjual. Namun waktu itu sedang tak ada pengujung sama sekali.
Sebagaimana diketahui perang badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun kedua hijriyah, tepatnya 13 Maret 624 Hijriyah, untuk membuktikan kehormatan umat Islam kala itu.
Makam ini terletak di Jalan Syuhada di Kota Badar, Madinah, Arab Saudi.
Sudah hampir 14 abad, buktinya masih ada hingga kini. Empat belas nama syuhada yang menjadi gugur dalam perang melawan tentara Quraisy, diabadikan dalam monumen.
Berikut adalah nama 14 syuhada itu:
1) Ubaidah bin Al-Harits, 2) Umair bin Abi Waqqas, 3) Dzusy Syimalain bin Abdu Amr, 4) Aqil bin Al-Bukair, 5) Mihja’, 6) Shafwan bin Baidha’ 7) Sa’ad bin Khaitsamah, 8) Mubasysyir, 9) Yazid bin Al-Harits, 10) Umair bin Al-Husam, 11) Rafi’ bin Al-Mu’alla, 12) Haritsah bin Suraqah, 13) Auf bin Afra’ dan 14) Mu’awwadz bin Afra’.

Makam 14 syuhada itu dikelilingi pagar besi setinggi sekitar 3 meter di lembah Badar. Di dalam pagar hanya ada bebatuan yang tak beraturan. Sangat sulit mengenali makam syuhada sesuai nama satu per satu.





Menurut Nur Kholis, seminar internasional bertujuan untuk mempertemukan para ilmuwan akademis, peneliti, ilmuwan penelitian terkemuka untuk bertukar dan berbagi pengalaman dan hasil penelitian mereka tertutama dalam bidang Studi Islam. IWOS juga menyediakan platform interdisipliner utama bagi para peneliti, praktisi, pendidik untuk mempresentasikan dan mendiskusikan inovasi, tren, dan isu kekinian serta tantangan praktis yang dihadapi juga bagaiamana solusinya pada bidang Studi Islam.




Secara paralel, seminar menampilkan dari FAI-UAD antara lain, Aiman, Shifa Diarsi, Allselia Rizki Azhari, Ruri Afria Nursa, Fitri Istiqomah, Fadlil Iqbal. Selain itu, Babayo Sule dan Usman (Federal University Kashere Gombe – Negeria), Dr Darodjat MAg (Universitas Muhammadiyah Purwokerto), Suci Nur Azizah (UAD), Suryo Bayu Tirto Aji (UAD). Menurut Nur Kholis, tantangan adanya data yang bertebaran di dunia maya menjadi peluang untuk dimanfaatkan secara baik, benar dan bijaksana. Dikatakan Nur Kholis, International Seminar Online ini didesain untuk memberikan pengetahuan dan ketrampilan bagi masyarakat, khususnya pemuda muslim yang bekerja sama dengannya untuk berkiprah dan berkontribusi sscara positif di era global dan kekinian.


