FAI UAD Yogyakarta-FU UIN Bandung Siap Berkolaborasi Dalam Publikasi Ilmiah Mahasiswa-Dosen
Yogyakarta, FAI TERKINI – Publikasi ilmiah menjadi kebutuhan mendesak pendidikan tinggi di Indonesia. Sebab, pendidikan tinggi maju menurut parameter internasional diukur dari pencapaian publikasi ilmiah para akademisi, baik dosen maupun mahasiswa. Dr. H. Nur Kholis, M.Ag., Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta memandang perlu diterapkan strategi peningkatan publikasi ilmiah. Bersama ini digelar agenda “Kiat Melejitkan Publikasi Dosen dan Mahasiswa” yang berlangsung online, Kamis, (17/12/2020).
Acara ini menghadirkan narasumber Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin (FU) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Acara dipandu oleh Arif Rahman, M.Pd.I., Wakil Dekan FAI UAD Yogyakarta. Wahyudin menekankan perlunya membentuk “Writing Center” yang berperan sebagai pusat bantuan penulisan bagi mahasiswa. Sejak semester pertama, mahasiswa mesti dikenalkan penggunaan aplikasi references. Panduan penulisan artikel ilmiah niscaya harus disusun sebagai guide struktur penulisan dan sekaligus alat “interogasi” hasil latihan penulisan. Peningkatan kualitas penulisan dipastikan melalui review dan feedback (umpan balik). Terakhir, menurut Wahyudin, pastikan mahasiswa melakukan submit artikel ke jurnal ilmiah.
“Jika diibaratkan shalat maka penerapan aplikasi references adalah wudhu. Ruku dan sujud ialah struktur. Adapun salam yaitu submit. Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu, ruku dan sujud serta salam. Artikel ilmiah tidak bisa lepas dari penerapan aplikasi references, penguasaan struktur penulisan, dan submit artikel ke jurnal ilmiah,” ungkap Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag. Dekan FAI UAD Yogyakarta dan Dekan FU UIN Bandung sepakat adakan konferensi Tahun 2021. Konferensi ini dimaksudkan untuk mewadahi artikel mahasiswa bersama dosen dari keluaran mata kuliah. Mereka juga berinisiatif menghimpun mitra pendidikan tinggi lain di Indonesia untuk berkolaborasi. Acara dimulai pukul 09.00 – 11.30 WIB. dengan audien sekitar 450 orang. Beberapa pertanyaan mengemuka di kegiatan ini. Moderator mengucapkan terimakasih atas partisipasi semua pihak dan berharap publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa makin melejit melalui kolaborasi lintas pendidikan tinggi.


Acara ini dibuka dengan kegiatan membaca ayat suci Alquran, kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dan materi dari narasumber. Dalam sambutannya, Farid Setiawan, selaku ketua program studi PAI menyampaikan bahwa pendidikan agama saat ini bisa diterapkan secara fungsional, sehingga arahnya bukan hanya semata-mata untuk aspek pengetahuan, tapi juga untuk afektif dan jadi penggerak aktivitas manusia. sedangkan Nur Kholis, Dekan FAI, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Muhammadiyah telah melakuka lompatan dalam peningkatan sumber daya insani berkemajuan. Sejak lama muhammadiyah sudah melakukan pendidikan berkonsep modern antara pendidikan islam dengan umum serta mengintegrasikan pendidikan di sekolah dengan keluarga dan massyarakat. Oleh karena itu, diharapkan tidak ada lulusan pendidikan Muhammdiyah yang menjadi individualis.
Selain penyaluran bantuan, pada kesempatan tersebut Baznas Kota Jogja juga menjalin kerja sama dengan BRI Syariah serta Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Kerja sama dengan BRI Syariah berkaitan untuk sinergi program pada tahun mendatang. Sedangkan kerja sama dengan UAD berkaitan penguatan program pemberdayaan di Kampung Sodagaran.
Ketika ditelusuri, ternyata foto dalam gambar yang dikirim tersebut rupanya santriwan Miftakh, asal Pelembang, Sumatera Selatan. Nama lengkapnya ialah Muhammad Miftakhurrohman, Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). Ia lahir di Musi Banyuasin, tanggal 22 Maret 2001, hingga sekarang tinggal di Desa Beji Mulyo, RT 17/3, Tungkal Jaya, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.
Kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan untuk melantik para pengurus periode baru juga untuk merancang program kerja dalam satu tahun masa kerja. Pada Muskerwil tahun 2020 ini, tema yang diusung adalah “Garuda di Dadaku, Tafsir Hadits di Hatiku”.
Nandang menuturkan proses seleksi Mawapres tingkat fakultas akan menjadi bekal seleksi lebih lanjut di tingkat universitas yang lebih ketat. Mulai dari seleksi berkas, membuat KTI, seleksi bahasa Inggris, dan tes psikologi menjadi tahapan yang harus dilaluinya.
Menurutnya, ada tiga hal yang mendasari dirinya dalam proses kreatif dalam menulis buku Teologi Kemenangan. Pertama, refleksi dari yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kedua, rasa tanggung jawab terhadap keilmuan yang ia pelajari, bahwa ilmu pengetahuan harus dibumikan. Ketiga, Haryono ingin menggambarkan dan menyampaikan autokritik terhadap keberagaman realitas sosial, seperti penindasan, hujat-menghujat, dan kepongahan beragama. 