Revitalisasi Peran Mahasiswa FAI UAD Sebagai Kader Muhammadiyah Oleh : Dr. Nur Kholis., M.Ag
Yogyakarta, FAI TERKINI – Ustadz Dr. Nur Kholis., M.Ag menjadi narasumber dalam acara Baitul Arqam mahasiswa FAI 2020 untuk mengisi kegiatan Materi 7 yaitu mengenai Revitalisasi Peran Mahasiswa FAI UAD Sebagai Kader Muhammadiyah. Materi ketujuh dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Februari 2021 dimulai dari jam 08.00 s.d. 09.30 WIB. Dipandu oleh Akhmad Arif Rif’an, S.H.I., M.S.I. yang merupakan dosen FAI, acara tersebut digelar secara daring Live Streaming melalui kanal youtube Official FAI UAD.
Dalam penyampaiannya, Ustadz. Nur Kholis memaparkan mengenai Revitalisasi Peran Mahasiswa FAI UAD Sebagai Kader Muhammadiyah, yang dimulai dengan menyampaikan dasar pijakannya yaitu Alquran QS. Ali-Imron ayat 104 & 110. Untuk bisa berbuat amar ma’ruf nahi munkar, maka kita harus memiliki kompetensi untuk melakukan hal itu. Mahasiswa FAI tentunya adalah termasuk golongan yang memiliki kompetensi untuk menyeru kebajikan karena puncak dari keislaman seseorang adalah berdakwah. Nantinya mahasiswa FAI akan berdakwah sesuai kepakaran masing-masing.
IAgar kita bisa menjadi pendakwah yang kompeten, maka dari sejak sekarang kita harus rajin membaca, baik membaca buku maupun lingkungan sekitar kita. kemudian hasil bacaan tersebut tidak boleh berhenti di pikiran, tapi terdokumen dengan baik. Dokumentasi-dokumentasi dari hasil bacaan kita, nanti kita sampaikan/dakwahkan ke lingkungan kita. Para peserta BA sangat antusias dalam mengikuti materi yang disampaikan oleh Ustadz Nur Kholis, berbagai pertanyaan dan diskusi yang menarik berlangsung hingga waktu habis. Diharapkan setelah mendapat materi ini, mahasiswa FAI, khususnya para peserta BA 2020 ini bisa memahami bagaimana Revitalisasi Peran Mahasiswa FAI UAD Sebagai Kader Muhammadiyah.

Dr. Nur Kholis, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan, “Baitul Arqam baru pertama diselenggarakan di FAI UAD. Walaupun sebenarnya pengenalan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sudah ada tiga tahun yang lalu, kini digabung dalam FAI UAD. Kegiatan ini wajib untuk syarat proposal skripsi FAI. Semoga peserta dapat mengikuti kegiatan dengan tertib. Harapannya acara ini dapat menghasilkan luaran yang lebih efektif dan menyenangkan supaya tepat sasaran serta memperoleh keterampilan sebagai calon kader. Selepas acara ini akan ada tindak lanjut dari Baitul Arqam yaitu Gerakan Jamaah Dakwah (GJD) versi PAI.” (Dew)
Dalam penyampaiannya, Ust. Muchlas Abror memaparkan mengenai nilai-nilai Perjuangan Tokoh Muhammadiyah, yang dimulai dari sejarah Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 November 1912 hingga kini tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Mahasiswa UAD sebagai kader Muhammadiyah, tentu harus mengenal Muhammadiyah sebagai gerakan islam amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
Dalam penyampaiannya, Ust. Atang memaparkan mengenai tata cara ibadah yang dituntunkan oleh HPT MUhammdiyah, namun beliau juga menyampaikan bahwa tuntunan ibadah yang diputuskan oleh Tarjih bukanlah satu-satunya cara yang benar, jika kita tau ada cara ibadah lain dengan nas yang jelas dari Rasulullah, maka itu juga bisa digunakan. Dimulai dari materi Thaharah yaitu bersih atau suci dari kotoran, secara istilah yaitu upaya untuk menghilangkan najis atau hadas dengan menggunakan alat bersuci menurut cara tertentu. Alat bersuci yaitu air, debu, batu atau benda padat lainnya. Bedanya najis dan hadas, najis yaitu apa saja yang dipandang kotor menurut agama sedangkan hadas adalah keadaan tidak suci yang mengenai pada muslim sehingga menyebabkan orang tersebut tidak dapat solat. Hadas sendiri terdiri dari hadas kecil dan hadas besar.
Kamal menempatkan tauhid sebagai pandangan dunia seorang muslim. Sebagai pandangan hidup, Allah Swt merupakan realitas tertinggi menjadi acuan setiap aktivitas kaum Muslim. Karenanya seorang muslim semestinya menempatkan tauhid sebagai dasar bagi penafsiran atas semua fenomena alam semesta dan menjadi asas paling dasar dalam aktivitas berpikir. “Kalau kita bertanya, siapa manusia? Maka kita berbicara apa kata Allah tentang manusia. Ketika manusia berbicara tentang nilai-nilai dalam pandangan hidup, maka kita akan berbicara nilai-nilai ilahiyah. Ketika manusia berbicara tentang dunia, maka bagaimana kata Allah tentang dunia. Kita harus kembali kepada Allah, jangan didefinisikan sendiri,” tutur dosen UMY ini.
Hal tersebut disampaikan oleh Ust. Anhar Anshari, Ph.D dalam materi ke-1 pada acara Baitul Arqam 2021 FAI UAD yang dilaksanakan pada hari Senin-Rabu, 8-9 Februari 2021 secara daring. Kegiatan tersebut diikuti oleh 800-an mahasiswa angkatan 2020 dari lima prodi di FAI. Melibatkan lebih dari 50 orang panitia yang terdiri dari panitia inti, teknis, instruktur, pendamping, dan juga Co-Host.
Lomba yang diselenggarakan oleh Biro Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Ahmad Dahlan ini diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Indonesia. Tema dalam kegiatan tersebut adalah “Strategi Adaptasi Implementasi SDGs di Era New Normal dalam Mewujudkan Indonesia Berkemajuan”. Dilaksanakan sejak tanggal 06 November 2020 hingga berakhir pada agenda puncak pengumuman pemenang di tanggal 19 Januari 2021.